Rabu, 09 November 2011

Keluarga dengan 2 anak wanita sering bahagia


Sebuah penelitian menarik tentang anak dan keluarga dilakukan di Inggris. Dari penelitian itu terungkap, keluarga paling bahagia adalah mereka yang punya dua anak perempuan.

Penelitian tersebut dibuat oleh situs bounty.com. Ada 2.116 orangtua yang memiliki anak 16 tahun dan di bawah itu, menjadi responden. Yang diteliti adalah, bagaimana kehidupan keluarga dengan berbagai kombinasi anak, misalnya keluarga yang memiliki dua anak perempuan, keluarga yang punya dua anak lak-laki dan lain-lain. Penelitian itu meneliti 12 kombinasi anak dalam sebuah keluarga.

Dari penelitian itu terungkap, keluarga yang punya dua anak perempuan paling harmonis ketimbang keluarga dengan kombinasi anak lainnya. Keluarga tersebut jadi jarang bertengkar. Dua anak perempuan juga jarang membangkang ucapan orangtua mereka, tidak terlalu berisik dan percaya pada orangtua.

Hal yang jauh berbeda terjadi pada keluarga dengan empat anak perempuan. Mereka yang memiliki empat anak perempuan, jadi keluarga yang paling tidak bahagia dibanding keluarga lainnya. 1 dari 4 keluarga tersebut mengaku tidak 100% bahagia dengan hidup mereka, dan 1 dari 3 keluarga mengungkapkan sulit untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Misalnya saja saat anak-anak sakit, para orangtua ini sulit berbagi perhatian untuk keempat anak mereka. Saat pagi hari datang, orangtua dengan empat anak perempuan juga menjadi sangat sibuk dan sulit menyiapkan semua keperluan.

"Ayah dan ibu yang menjadi responden kami adalah orangtua yang mencintai anak-anaknya. Tapi mereka yang memiliki keluarga lebih besar kesulitan menemukan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari," ujar juru bicara dari bounty.com, Faye Mingo seperti dilansir Telegraph.

"Semakin banyak anak perempuan yang dimiliki, mereka jadi semakin sibuk, lebih sibuk dari mereka yang punya anak laki-laki," tambahnya.

Dalam penelitiannya, bounty.com meminta para orangtua memberikan rangking pada berbagai perilaku anak-anak mereka. Dua anak perempuan mendapatkan skor tertinggi dalam penilaian tersebut. Mereka lebih mudah dipahami, mau membantu mengurus rumah dan secara umum, saling menyayangi.

Dari penelitian yang dilakukan bounty tersebut, Mingo berharap para orangtua lebih banyak memberikan waktu berkualitas untuk anak-anak mereka. Para orangtua juga harus mengingatkan anak-anaknya, betapa beruntungnya memiliki saudara kandung. Buat juga ritual keluarga, seperti makan dan main bersama sehingga keluarga menjadi lebih dekat.

Berikut ini kombinasi anak dari yang terbaik ke terburuk, berdasarkan survei bounty.com:

1. Dua anak perempuan
2. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan
3. Dua anak laki-laki
4. Tiga anak perempuan
5. Tiga anak laki-laki
6. Empat anak laki-laki
7. Dua anak perempuan dan satu anak laki-laki
8. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.
9. Tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan
10. Tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki
11. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan
12. Empat anak perempuan

Kelebihan memiliki dua anak perempuan:

1. Jarang berisik
2. Membantu mengurusi rumah
3. Jarang bertengkar dan berdebat
4. Bermain bersama dengan baik
5. Jarang saling cuek
6. Percaya pada orangtua
7. Tingkah laku atau sikapnya cukup baik
8. Sangat menyukai satu sama lain
9. Penurut
10. Jarang Saling Mengganggu

Kekurangan punya empat anak perempuan:

1. Bertengkar dan berdebat sepanjang waktu
2. Kurang penurut
3. Kerap tidak saling menyukai
4. Waktu tidur bisa jadi mimpi buruk
5. Sering membuat berisik rumah
6. Jarang percaya pada orangtua
7. Harus memiliki rumah dan mobil yang besar

ibu yang bahagia berpengaruh positif ke anak


 Para peneliti di Inggris mencari tahu apa yang membuat anak-anak bahagia dengan kehidupan mereka. Temuan penelitian tersebut anak bahagia jika ibu mereka bahagia. Sedangkan kebahagiaan ayah tidak terlalu menentukan kepuasaan hidup anak.

'The Understanding Society' itulah nama penelitian yang melibatkan 40 ribu rumah tangga di Inggris. Ada 6.441 wanita, 5.384 pria dan 1.268 anak yang jadi responden penelitian tersebut.

Dilansir Daily Mail, 60% anak-anak dalam penelitian itu yang ibunya bahagia dengan hidup mereka, merasa sangat puas dengan kehidupan keluarga sekarang. Sebaliknya, 55% anak yang ibunya tidak bahagia, merasa hidupnya kurang membahagiakan.

Penelitian yang melibatkan anak berusia 10-15 tahun itu mencari tahu bagaimana hubungan antara pasangan menikah dan hubungan antara orangtua dengan anak. Tiga peneliti dalam penelitian tersebut yang berasal dari Institute for Social and Economic Research, Professor John Ermisch, Dr Maria Iacovou dan Dr Alexandra Skew mengungkapkan, anak yang paling bahagia adalah mereka yang tinggal dengan kedua orangtua, tanpa adik, tidak sering bertengkar dengan orangtua, makan malam bersama setidaknya tiga kali dalam seminggu dan sang ibu bahagia dengan keluarganya.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga dan orangtua yang bahagia adalah kunci kebahagiaan anak. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan yang ada selama ini kalau anak-anak hanya mau menghabiskan waktu dengan bermain videogame atau menonton televisi. Yang kami temukan anak-anak justru merasa bahagia jika bisa berinteraksi dengan orangtua atau saudara mereka," urai Dr Maria Iacovou.

Sabtu, 24 September 2011

Tidur Anak kurang dari 9 Jam Pengaruhi Kecerdasan

Tidur yang cukup merupakan hal yang penting pada setiap individu, termasuk anak. Jumlah jam tidur seberapa yang cukup tentu menjadi pertanyaan.

Karena itu, Moms, kini saatnya untuk mulai memerhatikan jam tidur buah hati tercinta. Pasalnya, saat anak tidur kurang dari 9 jam, kemungkinan besar dia akan mengalami kesulitan belajar di sekolah pada pagi harinya.

Setidaknya itu menurut studi baru yang dilakukan oleh University of Barcelona terhadap 142 anak berusia 6 hingga 8 tahun. Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa kelelahan mata akibat menonton tv dan kebiasaan bermain komputer hingga larut malam memengaruhi nilai akademik anak.

Anak menjadi sulit berkomunikasi dan mengerjakan latihan dasar matematika. Bahkan, ingatan dan kemampuan belajar sang anak pun ikut memburuk. Demikian seperti yang disitat Dailymail, Jumat (16/9/2011).

Ramon Cladellas, ketua studi menuturkan pentingnya tidur malam yang baik, "Kurang tidur pada anak akan memengaruhi perkembangan kecerdasan dia. Zaman sekarang, orangtua terlalu memanjakan anak dan membiarkan mereka berkutat dengan tv, game dan komputer hingga larut malam. Sementara, hal itu justru menurunkan kecerdasan anak. Maka, penting untuk mulai memperhatikan jam tidur anak untuk perkembangan otak yang baik."

Artikel Lain tentang Kecerdasan Si Kecil, bisa diklik SebelahSini

Jumat, 23 September 2011

Ibu Bekerja Tak Perlu Merasa Terlalu Bersalah Meninggalkan Anak

Ibu bekerja memang pilihan yang susah, disatu sisi seorang ibu perlu untuk mengasuh si kecil, sedang disisi lain juga perlu mengisi pundi pundi keluarga, nah bagaimana sih trend yang sekarang ini..?

TIDAK perlu khawatir bagi Anda yang harus bekerja, namun masih memiliki anak kecil. Meninggalkan anak di rumah tidak akan berpengaruh pada perilakunya saat besar kelak. Selama ini wanita karier sering cemas meninggalkan anaknya di rumah.

Itu karena ada anggapan bahwa anak yang tidak didampingi ibunya rentan mengalami gangguan perilaku. Salah satu gangguan yang dikhawatirkan para ibu bekerja, antara lain gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) pada sang buah hati.

Namun, sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak yang ibunya bekerja di luar rumah tidak akan mengalami kecenderungan untuk mendapatkan masalah perilaku atau emosional saat berusia lima tahun dibandingkan anak-anak yang ibunya tinggal di rumah. Studi tersebut diterbitkan dalam Journal of Epidemiology and Community Health.

Menurut Bureau of Labor Statistics, pada 2010, sekitar 64 persen dari kaum ibu di Amerika, yang memiliki anak-anak di bawah usia enam tahun bekerja di luar rumah.

“Kami tidak melihat adanya efek yang merugikan pada perilaku anak-anak dengan pekerjaan ibunya,” kata peneliti studi Anne McMunn PhD, seorang peneliti senior di University College London, Inggris, seperti dikutip laman WebMD.

Hidup dengan dua orangtua yang bekerja tampaknya menjadi pilihan terbaik untuk anak-anak. Dan, efek ini jelas terlihat, bahkan setelah peneliti memperhitungkan tingkat pendidikan ibu dan pendapatan rumah tangga. Hasil penelitian menyebutkan, seorang anak perempuan justru bertingkah laku buruk jika ibunya tinggal di rumah.

Anak perempuan dengan ibu yang tidak bekerja sama sekali dalam lima tahun pertama kehidupan mereka, dua kali kecenderungan memiliki masalah perilaku pada usia lima tahun.

“Ibu bekerja tidak perlu merasa bersalah bahwa pilihannya ini akan berdampak pada perkembangan sosial, emosional, atau perilaku anak-anak mereka,” tutur McMunn.

 “Dan jika pun ada (dampak), mereka mungkin melakukan pelayanan dalam hal meningkatkan pendapatan keluarga dan beberapa efek positif untuk anak perempuan,” lanjutnya.

Studi baru ini menganalisis data mengenai pekerjaan orang tua ketika anak-anak masih bayi, usia tiga tahun dan lima tahun.

Para peneliti membandingkan informasi ini dengan perilaku sosial dan emosional pada anak usia tiga dan lima tahun untuk melihat, apakah status pekerjaan ibu memiliki efek pada risiko gangguan mental anak di kemudian hari.

“Penelitian ini dilakukan di Inggris, tapi temuan ini mungkin berlaku juga di Amerika Serikat,” imbuh McMunn.

Charles Shubin MD, direktur medik di Children’s Health Center of Mercy Family Care di Baltimore, dan profesor pediatrik di University of Maryland mengatakan, pilihan pengasuh anak memainkan peran besar dalam bagaimana anak-anak dipengaruhi oleh status pekerjaan orangtua.

“Anda tidak bisa hanya melimpahkan anak (ke pengasuh),” tuturnya.

“Anda masih harus berhubungan dengan anak-anak. Anda harus terlibat dalam kehidupan anak-anak dan mereka perlu tahu Anda seperti apa. Jika anak merasa tidak diterima, mereka akan memiliki masalah pemusatan perhatian, terlepas apakah ibu mereka bekerja di luar rumah atau tidak,” tutur Shubin.

Susan Newman PhD, seorang psikolog sosial di Middlesex County, NJ, dan penulis beberapa buku, termasuk The Case for the Only Child, menuturkan, studi baru ini memvalidasi apa yang telah diketahui umum selama bertahun- tahun.

“Pilihan bekerja itu ada harganya,” kata Newman.

“Jika Anda andal, menjadi pengasuh yang baik, bekerja tidak akan memiliki efek negatif pada anak-anak, ketika banyak orang percaya soal itu,” lanjutnya.

“Tidak ada yang secara konkret menemukan adanya efek negatif pada anak-anak jika Anda seorang ibu yang bekerja. Faktanya, orangtua menjalankan pekerjaan yang terbaik karena memiliki suatu kepentingan di luar anak-anak, dan bekerja tentunya merupakan salah satu kepentingan-kepentingan itu,” katanya.

“Jika Anda perlu atau ingin bekerja, rasa bersalah adalah emosi yang sia-sia,” sebut Newman.

Hasil penelitian ini sempat mendapat tanggapan miring. Beberapa peneliti lain mengatakan, kalau meninggalkan anak di bawah asuhan orang lain dan ibu bekerja akan membuat anak memiliki kelakuan buruk.

Namun, menurut peneliti tersebut, jika seorang ibu berhasil membuat pekerjaan dan hubungan batinnya dengan sang anak tetap seimbang, maka dia bisa lebih sukses dalam keluarga dan pekerjaan. Untuk mengatasinya, ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu.

Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia,tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak.

Tak lupa ibu juga menyempatkan bercanda dengan anak dan memeriksa tugas-tugas sekolah anak meskipun sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Namun, pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.

Sementara untuk ibu yang bekerja di dalam rumah pun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana. Namun, tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu,tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga akan tetap terjaga dengan baik.

Ada Juga ibu yang terlalu merasa bersalah...Baca artikel kami di SebelahSini 

Rabu, 21 September 2011

Bukti Penelitian kalo ASI Bikin Anak Cerdas

Memiliki anak yang cerdas pasti idaman setiap orangtua, dan banyak hal yang mempengaruhi hal tersebut, termasuk diantaranya adalah pemberian ASI

Tidak hanya bermanfaat bagi kecukupan nutrisi, ASI eksklusif terbukti mampu mencerdaskan otak anak, terutama perkembangan dalam bidang perbendaharaan kata dan penalaran. Sebuah studi terbaru di Inggris mengungkap, anak-anak yang diberi air susu ibu (ASI) ternyata memiliki nilai lebih tinggi pada tes perbendaharaan kata dan penalaran pada usia lima tahun, dibanding mereka yang tidak disusui. ASI juga tampaknya membuat perbedaan besar bagi bayi prematur dan bisa membantu mereka mengejar ketertinggalan dalam perkembangan otaknya.

”Ada asam lemak esensial dalam ASI yang baik untuk perkembangan sel pada umumnya dan peningkatan kemampuan otak pada khususnya,” kata Amanda Sacker, salah satu penulis dari studi baru ini yang berasal dari Institute for Social and Economic Research di University of Essex.

Ada hormon penting yang tidak terdapat dalam susu formula. ”Selain itu, mungkin anak-anak yang diberi ASI mendapatkan lebih banyak pelukan. Ini tentu memberikan semacam keuntungan untuk mereka juga,” tutur Sacker seperti dikutip Reuters.

Meskipun Sacker dan rekan-rekannya mampu memperhitungkan banyak faktor, seperti pendidikan ibu dan seberapa harmonis keluarga mereka, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa ASI mampu meningkatkan aspek kognitif pada anak. Sebagai contoh, para peneliti tidak memiliki data mengenai seberapa besar IQ orangtua anak tersebut, yang mungkin memengaruhi baik atau tidaknya proses menyusui dan seberapa baik nilai yang didapat anak-anak mereka pada tes pikiran dan penalaran.

Namun temuan yang diterbitkan dalam The Journal of Pediatrics ini mengarah kepada hubungan sebab-akibat. Data dalam penelitian ini berasal dari sekitar 12.000 bayi yang lahir di Inggris antara 2000 dan 2002. Ketika bayi berusia sembilan bulan dan pada kunjungan-kunjungan berikutnya, orangtua telah ditanya apakah anak mereka diberi ASI dan sampai umur berapa. Kemudian pada usia lima tahun, anak-anak tersebut diminta mengikuti tes yang mengukur perbendaharaan kata, penalaran, dan keterampilan spasial.

Sekira enam atau tujuh dari 10 bayi umumnya diberi ASI untuk jangka waktu tertentu. Apakah mereka lahir tepat waktu atau prematur, anak-anak tersebut cenderung mendapatkan nilai lebih baik pada sejumlah tes. Mereka yang lahir tepat waktu dan mendapatkan ASI selama empat atau enam bulan, pengetahuan soal perbendaharaan kata dan gambar terkait tes penalaran akan lebih maju beberapa bulan dibanding bayi yang tidak mengonsumsi ASI.

Sementara itu, bayi prematur yang diberi ASI minimal dua bulan juga memiliki kemampuan pada pengenalan gambar dan tes spasial lebih baik dibanding dengan anak berusia lima tahun yang lahir prematur. Sementara mereka yang disusui ASI selama empat bulan, perbendaharaan katanya lebih banyak.

Dr David McCormick, seorang dokter anak di University of Texas Medical Branch di Galveston mengatakan, ASI bermanfaat bagi sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan, dan fungsi otak. ”Ada begitu banyak keuntungan lain dari sekadar peningkatan IQ,” kata McCormick, yang tidak terlibat dalam penelitian baru ini.

Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa bayi yang diberi ASI selama enam bulan atau lebih, terutama bayi laki-laki, pencapaian nilainya di sekolah jauh lebih baik saat dia berusia 10 tahun dibanding dengan anak yang rutin minum susu formula.

‘’Mengonsumsi ASI harus dianjurkan, baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan karena mengandung banyak manfaat positif,” kata pemimpin studi Wendy Oddy, seorang peneliti di Telethon Institute for Child Health Research di Perth, Australia.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada edisi online 20 Desember lalu di jurnal Pediatrics. Oddy dan rekan-rekannya melihat skor akademik pada anak usia 10 tahun atau lebih dari 1.000 anak-anak yang ibunya telah terdaftar dalam serangkaian penelitian yang dilakukan di Australia Barat.

Setelah disesuaikan dengan faktor lain, seperti jenis kelamin, pendapatan keluarga, faktor ibu, dan stimulasi dini di rumah, seperti membaca, mereka memperkirakan adanya hubungan antara menyusui dan hasil pendidikan. Hasilnya, bayi yang disusui selama enam bulan atau lebih memiliki skor akademik yang lebih tinggi pada tes standar dibanding mereka yang disusui kurang dari enam bulan.

Namun, hasilnya bervariasi menurut jenis kelamin dan kemajuan hanya signifikan terlihat dari sudut pandang statistik anak-anak. Anak-anak memiliki nilai lebih baik dalam matematika, membaca, mengeja, dan menulis jika mereka disusui selama enam bulan atau lebih.


Mengonsumsi ASI selama enam bulan bagi anak perempuan mungkin tidak berpengaruh banyak dan secara statistik tidak signifikan meningkatkan nilai membaca di sekolah. Alasan adanya perbedaan jenis kelamin sampai sekarang belum jelas. Namun, Oddy berspekulasi bahwa ASI mungkin memiliki manfaat lebih besar bagi anak laki-laki.

Sabtu, 17 September 2011

Efek Positif Musik Buat Bayi


Efek musik pada orang dewasa sudah jelas, bikin suasana hati riang, memperbaiki mood, memeriahkan suasana, dan masih banyak lagi. Trus bagaimana efek musik terhadap bayi...?

Musik dipercaya memiliki banyak manfaat positif bagi bayi. Bayi yang mendengarkan musik tumbuh menjadi anak lebih tenang. Tak hanya itu, dibandingkan bayi yang tak pernah terekspos musik, ia juga akan memiliki pencernaan lebih baik. Dampaknya, efisiensi metabolismenya meningkat dan akhirnya pertambahan berat badannya lebih baik. 

Keajaiban musik bagi anak memang sudah dirasakan sejak masih dalam kandungan. Janin menunjukkan reaksi tertentu ketika diperdengarkan alunan musik. Ibu hamil dapat merasakan gerakan janinnya semakin cepat atau justru menjadi lebih rileks. 

Ketika bayi lahir sebaiknya kebiasaan memperdengarkan musik ini jangan dihentikan. Menurut hasil penelitian psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine, Amerika Serikat, memang ada kaitan erat antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi, serta keterampilan di bidang sains, ketika anak sudah bersekolah. 

Penelitian kedua pakar ini menunjukkan, anak yang mendapat pendidikan musik meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) 46% dibanding anak-anak yang tidak terekspos musik. 

Sementara menurut Dr. Dee Joy Coulter, pakar neuroscience dan penulis buku Early Childhood Connections: The Journal of Music and Moment-Based Learning, permainan yang mengandung musik akan membuat anak cepat meningkat keterampilan berbahasanya dan cepat bertambah kosa katanya. Kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang mampu mengorganisasi ide dan memecahkan masalah. 

Jadi, tunggu apalagi? Biasakanlah bayi Anda mendengar musik mengalun di rumah. Ajaklah ia bersenandung dan membuat gerakan tangan dan kaki seiring bunyi musik yang didengarnya. 

Artikel Menarik lainnya tentang si kecil bisa dilihat di SebelahSini

Jumat, 16 September 2011

Banyak Manfaat Pisang buat Si Kecil


Di pedesaan, orang-orang tua sering menyarankan untuk memberi makan pisang pada anak2, kalau masih kecil, bisa digunakan sendok untuk mengerok pisang tersebut. rupanya saran orang-orang tua itu banyak manfaatnya Ternyata pisang sangat kaya mineral  

- Kaya potasium. Pisang mengandung tiga jenis gula alami, yakni sukrosa, fruktosa, dan glukosa, yang bisa memberi energi bagi anak untuk beraktivitas. Selain itu, pisang juga kaya kandungan potasium. 

Misalnya, pisang ukuran sedang (sekitar 125 gr) mengandung sekitar 400 mg potasium, yang berarti memenuhi 10% kebutuhan potasium tubuh dalam sehari. Zat ini pas untuk anak senang berolahraga, karena bisa membantu otot berkontraksi dengan baik dan mengurangi masalah kram.

- Bikin otak encer. Penelitian yang dilakukan pada 200 murid Twickenham Prepatory School, Inggris, menunjukkan, para siswa merasa optimal mengerjakan soal ulangan, jika makan pisang saat sarapan, jam istirahat, dan makan siang. Ternyata, potasium juga memainkan peran dalam menjaga fungsi otak, terutama yang berkaitan dengan fungsi memori dan kegiatan belajar. 

- Mood food. Pisang memiliki kandungan vitamin B6 paling tinggi, yakni 0,4 mg untuk pisang seberat 120 gr. Masalahnya, kandungan setinggi itu sulit ditemukan dalam makanan si kecil. 

Padahal, vitamin B6 berperan mengubah asam amino triptofan menjadi serotonin, yang berfungsi menenangkan otak dan menstabilkan mood, lho! Selain itu, vitamin B6 akan membantu tubuh membentuk hemoglobin dan menjaga tingkat gula darah dalam tubuh. 

- Pilih yang matang. Ternyata, serat dalam pisang yang belum matang tidak mudah dicerna anak. Jadi, pilihlah pisang matang yang berwarna kuning dengan bercak cokelat. Pisang jenis ini mengandung serat yang mudah larut dalam tubuh, sehingga bisa mengatasi sembelit, diare, serta membantu mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh. 

- Baik untuk bayi. Mencoba memilih makanan padat pertama untuk bayi Anda? Pisang bisa dimasukkan dalam menu MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) si kecil. Selain mudah dicerna, tidak mengandung lemak, dan jarang sekali menyebabkan alergi, rasa manis pisang pasti disukai anak. Wah, pengalaman makan padat pertama si kecil akan menyenangkan.

artikel menarik lain tentang bayi bisa dilihat Kesini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...