Kamis, 01 Desember 2011

Liburan Bikin Si Kecil Makin Cerdas

Jika Anda mendapat cuti panjang untuk hari raya, jangan segan untuk membawa si kecil berjalan-jalan. Melakukan perjalanan selama liburan tak hanya membuatnya anak merasa senang, tetapi juga meningkatkan kecerdasannya. 

Seperti dikutip laman She Knows, penelitian yang dilakukan oleh peneliti Amerika Serikat menemukan bahwa melakukan perjalanan wisata saat liburan bisa merangsang keinginan anak untuk lebih banyak tahu tentang segala hal. Penelitian ini dilakukan di beberapa sekolah dan mengungkap bahwa perjalanan wisata yang dilakukan bersama keluarga adalah hal penting dari pendidikan anak. 

Aktivitas ini memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kognitif dan merangsang timbulnya rasa ingin tahu pada anak. Doktor William Norman, seorang profesor manajemen pariwisata di Clemson University, Carolina Selatan menyatakan, "memberikan pengalaman perjalanan pada anak, memperluas cakrawala dan membuka pikiran mereka untuk belajar banyak hal." 

Doktor Norman dan tim penelitinya menggunakan data yang dikumpulkan oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat sebagai bagian dari studi longitudinal 'Anak Usia Dini'. Data tersebut berisi informasi tentang 21.600 anak mulai dari taman kanak-kanak sampai kelas lima sekolah dasar.
Mereka mengamati pengalaman awal anak sekolah, pengalaman keluarga serta pengalaman hidup, seperti kegiatan musim panas. 

Orangtua dari sekitar seperempat anak-anak diberikan pertanyaan tentang wisata musim panas dan prestasi akademik. Prestasinya tersebut diukur dengan serangkaian tes standar dalam matematika, membaca dan pengetahuan umum.

Para peneliti kemudian menganalisis data untuk menentukan hubungan antara perjalanan liburan musim panas dan prestasi akademik pada anak-anak saat masuk kelas pertama. Secara khusus, penelitian ini untuk mengetahui apakah pergi berlibur, jumlah hari yang dihabiskan untuk liburan dan tempat yang dikunjungi terkait dengan prestasi akademik di bidang membaca, matematika dan pengetahuan umum. 

Hasil penelitian pun cukup mengejutkan. Para peneliti bisa dengan jelas mengidentifikasi hubungan yang signifikan antara prestasi akademik dan liburan keluarga. Ada tiga kesimpulan yang didapatkan dari penelitian :
- Anak-anak yang bepergian dengan keluarga, memiliki nilai lebih tinggi pada tes penilaian prestasi akademik daripada mereka yang tidak bepergian. 
- Semakin lama jumlah hari yang dihabiskan untuk perjalanan keluarga, memberikan pengaruh positif pada prestasi akademi anak. 
- Anak-anak yang menghabiskan waktu di museum, situs bersejarah, taman negara, dan bahkan kebun binatang serta pantai memiliki nilai prestasi akademik yang secara signifikan lebih tinggi daripada mereka yang tidak. 

Dengan kata lain, Anda tidak perlu membawa keluarga dan anak-anak ke tempat liburan yang mahal. Cukup mengajak mereka pergi ke lingkungan baru seperti kebun binatang, memungkinkan mereka untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan dan alam sekitar. Cara ini bisa membuat mereka lebih cerdas.

Rabu, 30 November 2011

Si Kecil Masuk Pra-sekolah, Efektifkah?

Saat ini taman kanak-kanak (TK) dan prasekolah bermunculan di mana-mana. Para orang tua berpikir TK dan prasekolah mempersiapkan anak untuk berpikir dan belajar yang membantu kesuksesan anak-anaknya di masa depan.

Namun, sebuah studi baru mengungkap bahwa peranan prasekolah tidak sepenting apa yang kebanyakan orangtua bayangkan.

Seperti yang VIVAnews kutip dari Momlogic, Profesor Dartmouth Elizabeth Cascio mengatakan mendaftarkan siswa di prasekolah atau taman kanak-kanak dan mungkin hanya memiliki sedikit efek pada kesuksesan mereka di masa depan.

Studi di California AS menemukan orang-orang yang dianggap relatif sukses adalah anak yang lahir antara tahun 1954 dan 1978 di 24 negara bagian di mana hanya sebagian yang menjalani aktivitas di prasekolah. Cascio menemukan, kehadiran taman kanak-kanak tak banyak mempengaruhi prestasi siswa di masa depan. Bahkan, tidak ada korelasi kuat antara kehadiran TK dan gaji yang lebih tinggi setelah lulus dari SMA atau universitas.

Cascio percaya temuannya dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan apakah manfaat pendidikan dini lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan orangtua. "Kita ingin melihat (potensi) efek jangka panjang dari program-program yang diusulkan. Temuan ini berguna untuk melihat efek jangka panjang dari program-program masa lalu."

Di AS sendiri mewajibkan TK bagi setiap anak masih menjadi perdebatan. Menurut Cascio, untuk melihat efek wajib TK yang akan diberlakukan hasilnya baru terlihat di tahun-tahun mendatang.

Waktu Main Ayah-Anak, Kunci Keluarga Bahagia

Lama waktu yang dihabiskan ayah untuk bermain bersama anak-anak mereka merupakan salah satu penentu utama kebahagiaan sebuah keluarga. Studi terbaru dari peneliti Meulborne Australia menemukan, keluarga dengan ayah melewati waktu luang lebih banyak bersama anak-anak tanpa bantuan ibu di dekat mereka cenderung lebih bahagia.

"Anak-anak membutuhkan ayah berada di sekitar mereka dan menjadi bagian kehidupan mereka. Budaya kita hanya membebankan perawatan kepada para ibu," ucap salah satu peneliti Universitas Melbourne, Margot Prior, dikutip Sydney Morning Herald.

Penelitian melibatkan 110 keluarga di Melbourne dengan anak-anak berusia 3-12 tahun. Para ayah dalam studi yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama buah hatinya mengaku, merasa anak mereka lebih bahagia sama seperti yang mereka alami. Mereka juga mengaku dapat meningkatkan kemampuan dan berperan dalam merawat anak-anak mereka.

"Perawatan yang dilakukan orang tua merupakan interaksi. Ini berarti ayah bertanggung jawab dalam membuat keputusan bagi anak-anaknya selama waktu itu," kata Prior.

Sebuah survei yang dilakukan Dewan Jasa Keuangan Australia menemukan, 71 persen ayah di Australia menghabiskan waktu kurang dari empat jam sehari bersama anak-anak mereka dibanding 43 persen ibu.

Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Early Child Development and Care.

Mata Anak Lebih Sehat bila sering Main di Luar Rumah

Biarkan saja, jika buah hati lebih sering bermain di luar rumah dibandingkan di dalam rumah. Bukan hanya agar ia lebih banyak melakukan aktivitas fisik tetapi juga demi kesehatan matanya. Bermain di luar rumah ternyata bisa mengurangi risiko anak terkena rabun jauh.

Faktanya, anak dengan gangguan mata minus, hanya menghabiskan waktu di luar rumah kurang dari 3,7 jam tiap minggunya. Ini sangat sedikit jika dibandingkan waktu yang dihabiskan anak dengan mata normal di luar rumah.
Seperti dilansir dari Telegraph.co.uk, hal ini menurut review yang dilakukan oleh Dr. Justin Sherwin dan Dr Anthony Khawaja, pada delapan penelitian yang melibatkan 10.400 orang. Pemicu rabun jauh atau miopi telah dikaitkan dengan sejumlah faktor, termasuk jumlah waktu yang dihabiskan mata untuk fokus pada objek yang dekat. Diketahui, hanya dengan menghabiskan banyak waktu di luar rumah, bisa melindungi penglihatan seorang anak.

Masalah gangguan rabun jauh ini paling parah ternyata terjadi di Asia Timur. Sebanyak 80 persen dari populasi menderita rabun jauh, negara-negara ini seperti Jepang dan China.
Doktor Sherwin mengatakan, manfaat dari menghabiskan waktu di luar rumah pada mata juga bisa dikaitkan dengan peningkatan paparan sinar ultraviolet. Dari penelitian laboratorium diketahui kalau miopi disebabkan juga oleh sinar ultraviolet yang bisa mengontrol jarak penglihatan. Ini berarti, kurangnya paparan sinar matahari bisa membuat jarak penglihatan terlalu panjang.

"Ini juga bisa disebabkan oleh kurangnya mendapat sinar ultraviolet. Tetapi, bisa juga karena kurang melihat kejauhan," kata Dr. Sherwin.

Sabtu, 12 November 2011

Bayi lebih baik Tidur bersama Ibu 3 Tahun

Ingin anak-anak Anda lebih sehat dan  terhindar dari stres hingga beranjak dewasa? Saat lahir hingga usia anak mencapai tiga tahun, buah hati harus tidur satu kasur dengan ibu.

Saran yang cukup kontroversi ini datang dari seorang dokter anak, Nils Bergman. Dia menemukan, bayi berusia dua hari yang tidur bersama ibu mereka tidur lebih nyenyak dibandingkan bayi yang tidur di kasur terpisah. Jantung anak-anak yang tidak berada satu tempat tidur dengan ibu mereka juga lebih banyak mengalami stres. 

Tidur terpisah membuat ikatan antara ibu dan anak lebih sulit dijalin, sehingga mempengaruhi perkembangan otak yang menyebabkan perilaku buruk saat anak tumbuh dewasa.

Dr Bergman, dari Universitas Cape Town, Afrika Selatan, mengatakan untuk perkembangan optimal, bayi baru lahir harus tidur di dada ibu selama beberapa minggu pertama. Setelah itu, mereka harus tidur sekasur dengan si ibu hingga berusia tiga, bahkan empat tahun. 

Namun, studi yang meneliti kaitan antara berbagi tempat tidur dengan  peningkatan risiko kematian menimbulkan ketakutan tersendiri bagi para ibu. Mereka khawatir tanpa sadar mereka akan menimpa anak mereka saat tidur. Dalam penelitian di Inggris, dua pertiga dari kasus kematian bayi mendadak terjadi saat bayi dan ibu berbagi tempat tidur. 

Dr Bergman mengatakan, "Bayi tercekik dan meninggal saat sedang tidur bukan karena ibu mereka. Tetapi karena hal-hal lain seperti asap beracun, rokok, alkohol, bantal-bantal besar dan mainan berbahaya," katanya seperti dikutip Daily Mail.

Dalam percobaan, 16 bayi diteliti saat sedang tidur bersama ibu mereka. Setelah diamati, stres yang dialami jantung bayi tiga kali lipat lebih rendah daripada saat mereka tidur sendirian.

Saat berada di ranjang terpisah, tidur bayi lebih terganggu, otak bayi lebih cenderung sedikit bertransisi dari dua siklus tidur, aktif dan tenang. Bayi yang tidur sendiri juga memiliki kualitas tidur yang lebih buruk. 

Peneliti percaya, tahap transisi ini sangat berpengaruh pada pengembangan otak bayi. Riset pada hewan menghubungkan kombinasi stres dan kurang tidur menyebabkan masalah perilaku pada masa remaja. Perubahan pada hormon stres juga berkaitan dengan adanya masalah kesehatan seksual di masa datang.

Yayasan Kelahiran Nasional Inggris menyatakan, berbagi kasur antara bayi dan orang tua tak berefek negatif selama orang tua tidak merokok, minum minuman beralkohol atau narkoba, tidak kegemukan, sakit atau sangat kelelahan.

Tingkat Kecerdasan (IQ) ternyata bisa Berfluktuasi

Selama ini, banyak orang menganggap level IQ (intelligence quotient), bersifat tetap. Namun, faktanya tak demikian. Ternyata, level IQ secara signifikan berfluktuasi di masa remaja. 

Artinya, level IQ seseorang bisa naik dan bisa turun. Hal ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim dari Wellcome Trust Centre for Neuroimaging di Inggris. Memang, sampai saat ini level IQ masih jadi patokan.

Jika hasil tes menunjukkan skor yang tinggi, seorang anak dianggap jenius. Sementara, jika skor IQ rendah, seorang anak dianggap tak terlalu pintar. Padahal, menurut penelitian, fakta soal IQ lebih rumit dari hal itu. 

Penelitian ini melibatkan 33 anak yang berusia 12 hingga 16 tahun. Tim melakukan tes IQ pada mereka. Empat tahun kemudian, mereka menjalani tes yang sama dan hasil tes menunjukkan satu dari lima anak mengalami fluktuasi dari satu kategori IQ, seperti kepintaran rata-rata. Beberapa anak, menunjukkan peningkatan IQ sebesar 21 poin dan ada juga yang turun 18 poin. 

"Perubahan sebesar 20 poin merupakan perbedaan besar. Jika level IQ seseorang yang awalnya 110 menjadi 130, maka ia berubah dari kategori rata-rata menjadi superior. Lalu jika poin awal 104 menjadi 84, maka berubah dari kategori normal menjadi rendah," kata Profesor Cathy Price, salah satu peneliti, dikutip dari cbsnews.com.

Hasil pemindaian otak pada anak-anak menunjukkan bahwa perubahan IQ juga bisa dilihat dari perubahan struktural dalam otak. "Perubahan dalam level IQ adalah sesuatu yang nyata," kata Dr. Sue Ramsden, asisten peneliti.

Lalu, apa pemicu naik dan turunnya level IQ? Menurut peneliti, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengerahuinya. Tetapi hal ini bisa jadi indikasi, bahwa hasil tes IQ pada beberapa orang bisa jadi karena ia terlalu cepat tumbuh atau mungkin terlambat. 

Jadi, orangtua tak perlu terlalu cepat menyerah pada anak yang hasil IQnya rendah. Sangat penting untuk menanamkan pada seorang anak, kalau ia adalah seorang yang pintar, demi perkembangan psikologisnya. 

"Kita (sebagai psikolog) harus berhati-hati dalam menulis 'buruk' terutama pada hasil tes IQ tahap awal. Pada kenyataannya, IQ mereka dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun," kata Price.

Lelaki jadi Lebih Baik Setelah Jadi Ayah

Hadirnya seorang anak dalam kehidupan pernikahan tak hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga menyebabkan perubahan drastis pada gaya hidup orangtua.

Menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya bisa membuat pria menjauhi kecanduan mereka akan rokok, minuman keras, bahkan kejahatan. Seperti dilansir dari Daily Mail, penelitian ini mengungkapkan bahwa sifat kebapakan dapat mengekang perilaku buruk mereka. Ayah berusia 20-an atau 30-an akan lebih dewasa dibanding mereka yang lebih muda dan lajang.

Para peneliti asal AS ini mengatakan hasil survei,  terutama untuk pria yang berusia lebih tua, cenderung berubah lebih baik karena mereka merasakan keharusan menjadi lebih dewasa. Mereka dituntut menjadi contoh yang baik bagi anak. Inilah mengapa mereka bersedia tanpa disuruh meninggalkan kebiasaan buruk mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oregon Stage ini meneliti 200 pria berusia 12-31 tahun yang diklasifikasikan berisiko memiliki perilaku destruktif. Mereka memantau relawan setiap tahunnya selama 19 tahun, melihat bagaimana asupan alkohol dan rokok berubah seiring bertambahnya usia.

Diterbitkan pada Journal of Marriage and Family, penelitian ini menemukan pria berusia 20-an dan awal 30-an ketika menjadi seorang ayah menunjukkan penurunan lebih besar pada konsumsi rokok dan alkohol.

"Menjadi sorang ayah dapat menjadi pengalaman transformatif bagi seorang pria. Ini menjadikan peluang bagi istri yang ingin merubah kebiasaan buruk suami karena sebagai ayah yang baik mereka bersedia melakukan apapun untuk anak mereka," ujar Professor David Kerr, penulis penelitian
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...