Sabtu, 03 Desember 2011

2/3 ibu Ternyata tidak suka sebutan "ibu rumah tangga"

Apalah artinya sebuah nama, rupanya bagi beberapa ibu nama sangat berarti. Menurut riset terbaru, 2/3 wanita yang tidak bekerja di kantor merasa terhina apabila mereka disebut ibu rumah tangga.

Survei tersebut dibuat oleh Mothercare dan diikuti oleh 2.000 ibu. Dalam survei itu terungkap 2/3 ibu memprotes sebutan 'housewife' (ibu rumah tangga) untuk ibu yang tidak bekerja di kantor. Para ibu tersebut lebih suka disebut sebagai 'stay-at-home mum'.

Para ibu yang merasa terhina dengan sebutan 'ibu rumah tangga' itu merasa nama tersebut mengandung konotasi negatif. Sebutan itu juga terkesan meremehkan peran mereka di rumah.

Sedangkan nama 'stay-at-home mum' lebih mengesankan positif karena merefleksikan tugas sebenarnya dari seorang ibu yaitu mengutamakan pengasuhan anak. Para ibu tersebut juga merasa pekerjaan rumah seharusnya menjadi tanggungjawab bersama suami dan istri.

"Zaman sudah berubah dan jelas para ibu ini merasa mereka kini lebih modern dan mungkin ingin nama yang lebih menggambarkan peran mereka," ujar konsultan keluarga dari Mothercare Liz Day.

Keinginan para ibu itu rupanya tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka rasakan. Sebagian besar ibu yang menjadi responden mengaku mereka lah yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah seperti membersihkan, mencuci, memasak dan berbelanja.

Hampir 50% ibu yang disurvei merasa pasangan mereka berharapa merekalah yang memang mengerjakan tugas domestik lebih banyak. Para pria berpikir demikian karena mereka beranggapan istri tidak bekerja seharian di luar rumah.

Survei tersebut juga mencari tahu bagaimana perasaan para ibu soal penerimaan masyarakat terhadap mereka. Hampir 50% ibu beranggapan rata-rata orang berpikir mereka membosankan karena tidak ada hal menarik yang bisa dibicarakan. Cukup banyak juga responden yang merasa dianggap tidak terlalu istimewa dibanding ibu bekerja.

Melihat dari survei tersebut, Liz Day mengatakan, apapun posisi Anda sekarang, ibu bekerja atau stay-at-home mum, hal yang harus diutamakan adalah kebahagiaan anak. "Memasak makanan seimbang dan memastikan mereka bisa mencapai tahap perkembangan sesuai umurnya," tambah Day.

1 dari 5 Ibu tertekan jadi Orangtua

Siapa bilang menjadi orangtua itu mudah? Buktinya menurut hasil riset terbaru, satu dari lima ibu mengaku sangat lelah dengan tekanan hidup sebagai orangtua. Para ibu tersebut juga merasa mereka hanya bisa menghabiskan setengah waktu luangnya untuk bermain dengan balita mereka.

Survei di atas dibuat oleh stasiun televisi Cartoonito saat meluncurkan akun Facebook komunitas untuk orangtua. Dalam survei itu 2.200 ibu yang memiliki anak usia pra sekolah menjadi responden.

Dalam survei itu ditemukan, 2/3 ibu rumah tangga mengaku menyuruh anak mereka untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah yang mudah. 1 dari 10 ibu tersebut juga menyisihkan setidaknya 20% dari pendapatan keluarga untuk membayar orang lain yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Berbagai cara tersebut dilakukan agar mereka bisa istirahat sejenak dan menghabiskan waktu yang lebih berkualitas bersama anak-anak.

Penelitian Cartoonito itu juga mengungkapkan, para ibu yang tidak bekerja di luar rumah ini, sangat sulit menemukan waktu untuk memanjakan diri sendiri. 70% ibu yang menjadi responden mengaku menggunakan waktu ketika bisa bebas dari anak-anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau berbelanja kebutuhan keluarga. Hanya 1/3 ibu yang bisa menghabiskan waktunya dengan tidur.

Berdasarkan survei tersebut, psikolog keluarga Dr Pat Spungin menyarankan pada para ibu untuk meminta bantuan orang lain jika mereka memang sudah sangat kelelahan. "Ibu seharusnya tidak merasa bersalah untuk minta bantuan orang lain sehingga mereka bisa punya waktu untuk diri sendiri," ujar Spungin seperti dikutip dari Female First.

"Untuk para ibu dengan anak di usia pra sekolah, masa-masa itu bisa sangat membuat stres. Terutama jika Anda adalah ibu rumah tangga tanpa ada saudara yang bisa dimintai bantuan. Anak-anak balita itu punya energi yang tidak terbatas dan banyak pertanyaan saat mereka senang dan bisa jadi tantrum saat mereka kesal," tuturnya lagi.

Menurut Spungin, menjadi seorang ibu adalah sebuah pekerjaan yang tidak mengenal waktu. Sehingga sangat wajar jika ibu merasa kelelahan di penghujung hari, terutama jika mereka tak mendapatkan bantuan pihak lain.

"Orang dulu punya keluarga yang besar sehingga dapat diminta bantuan. Tapi sekarang, banyak ibu yang tinggal berjauhan dari keluarga besarnya sehingga mereka harus meminta bantuan orang yang memang ahli jika mereka ingin istirahat," jelas Spungin.

48% Orangtua malu dengan sikap anak di Restoran

Seberapa sering anak bersikap kurang baik saat diajak makan di restoran? Menurut survei terbaru, gara-gara sikap buruk anak tersebut, 1 dari 5 orangtua sampai malu mengajak sang buah hati makan di resto.

Survei yang diadakan oleh The Kensington Hotel tersebut diikuti oleh 2.000 orangtua di Inggris. 48% orangtua di Inggris mengaku mereka malu dengan sikap sang anak saat diajak makan di restoran. 1 dari 5 orangtua juga mengungkapkan, mereka meninggalkan restoran dalam keadaan makanan belum habis karena sikap buruk anak. 

Dari survei itu terungkap, beberapa sikap buruk anak yang sulit dikendalikan saat mereka sedang makan:

- 35% anak sulit makan tanpa banyak bicara
- 34% anak sulit duduk dengan baik saat makan
- 22% anak tidak bisa menaruh sikunya di meja dengan baik saat makan
- 20% anak makan dengan tangan bukan sendok atau garpu
- 20% anak ingin meninggalkan meja makan karena bosan.

Masalah di atas membuat orangtua khawatir hingga mereka pun ingin mengikutsertakan anak masuk kelas yang mempelajari etiket di meja makan. Merespon keinginan orangtua tersebut, Kesington Hotel bekerjasama dengan pakar etiket Jean Broke-Smith menyenggalarakan kelas untuk anak-anak belajar etiket saat makan.

Untuk Anda yang merasa kesulitan mengajari anak etiket saat makan, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan seperti dikutip dari Daily Mail:

1. Agar anak mau makan dengan sendok dan garpu, minta pelayan di restoran memberikan sendok dan garpu khusus untuk anak. Dengan cara ini, anak jadi lebih mudah makan dengan kedua alat tersebut.

2. Tanya pada anak apa yang mereka ingin makan dan beri penjelasan jika menu yang dipilihnya Anda anggap kurang cocok untuknya. Jangan berikan anak makanan yang sebenarnya dia tidak mau. Cara ini bisa membuat anak menghabiskan makanannya dan tidak menyia-nyiakan makanan tersebut.

3. Jauhkan semua perangkat elektronik dari meja makan. Games atau telepon selular bisa mengalihkan perhatian anak pada makanan.

4. Waktu makan sebaiknya tidak terlalu banyak mengobrol. Pilih waktu lain untuk melakukan obrolan yang memang membutuhkan suara lebih keras dan banyak bicara.

Bila si Kecil gampang Nangis dan Sulit dikontrol

 Anak-anak ketika menginjak usia balita mulai menjadi tantangan tersendiri untuk orangtua. Mereka mulai menunjukkan sifat memberontak, egois, kasar dan sulit dikontrol.

Orangtua pun kewalahan menghadapi sikap anak tersebut. Apalagi biasanya sikap mereka diiringi dengan tangisan, yang bisa membuat orangtua semakin stres.

Kenapa anak bisa memiliki sikap tersebut? Menurut dua psikolog anak Jacob Azerrad dan Paul Chance dalam tulisannya di Psychology Today, ada banyak sebabnya mulai dari terlalu banyak mengonsumsi gula, alergi, televisi dan masalah psikologi.

Di luar faktor tersebut, dua psikolog itu percaya, ada sebab lainnya yang sangat mempengaruhi sehingga anak dengan mudahnya menjadi tidak terkontrol. Menurut mereka penelitian menunjukkan perilaku buruk anak itu terjadi karena orangtua memberikan perhatian yang salah.

Dalam penelitiannya psikolog Betty Hart dan koleganya di University of Washington melakukan penelitian pada seorang bocah berusia empat tahun bernama Bill. Bill dijuluki 'crybaby' di pre schoolnya. Setiap pagi anak itu akan mengeluarkan jurus menangisnya 5-10 kali. Dia akan menangis saat jatuh atau saat anak lain mengambil mainannya. Setiap Bill menangis, guru akan mendatangi untuk menenangkannya. Hart dan koleganya melihat perhatian yang diberikan pada Bill untuk menenangkannya itu justru jadi penyebab kenapa anak itu suka menangis.

Untuk memperkuat hipotesa tersebut, para peneliti kemudian meminta guru-guru Bill untuk menerapkan strategi baru. Sekarang, setiap Bill menangis, gurunya akan melihat padanya untuk mengetahui apakah dia terluka atau tidak. Kalau memang dia tidak terluka, sang guru tidak akan mendatanginya, bicara padanya atau memperhatikannya. 

Guru hanya akan memberikan perhatian khusus pada Bill hanya jika dia terluka atau kalau dia memang jatuh (tapi tidak terluka) dan tak menangis. Sang guru akan memberikan pujian pada Bill atas sikapnya itu. Hasilnya, setelah lima hari frekuensi menangis Bill berkurang.

Junk Food pada Anak Berhubungan dengan IQ

Junk food tidak hanya bisa menyebabkan obesitas dan berbagai gangguan kesehatan. Menurut penelitian terbaru, makanan cepat saji juga berpotensi memengaruhi tingkat IQ pada anak.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Epidemiology and Community Health mengungkapkan, anak yang sering makan junk food berpotensi memiliki IQ lebih rendah saat mereka dewasa. Bagaimana junk food memengaruhi tingkat intelektualitas anak?

Dikutip dari Care2, penelitian tersebut melibatkan 14.000 anak yang lahir pada tahun 1991 dan 1992. Para peneliti memeriksa pola diet dan perkembangan otak mereka pada usia 3, 4, 7 dan 8,5 tahun. Selama periode studi, orangtua mereka memberikan penjelasan tentang konsumsi makanan dan minuman anak-anaknya.

Kemudian, partisipan dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan kebiasaan makan mereka. Kategori pertama adalah 'processed diet', dimana makanan yang mereka konsumsi mengandung gula dan lemak tinggi. Kedua, 'traditional diet' yang terdiri dari konsumsi daging dan kentang. Sedangkan kategori ketiga dilabeli 'health-conscious diet' yang terdiri dari sayuran, buah, pasta dan nasi.

Saat usia responden menginjak 8,5 tahun, tingkat IQ mereka pun diukur. Hasilnya, anak yang mengonsumsi makanan olahan memiliki IQ rata-rata 101, sementara anak dengan diet sehat IQ-nya rata-rata 106. Perbedaannya memang tidak terlalu signifikan, namun bisa diketahui bahwa nutrisi yang dikonsumsi anak saat kecil bisa berpengaruh pada kondisi fisik saat usia mereka lebih besar. 

"Junk food membuat anak lebih sulit menerima pelajaran dan kemampuannya menangkap hal-hal baru di lingkungan juga berkurang," ujar Pauline Emmet dari School of Social and Community Medicine di University of Bristol, Inggris.

Para peneliti juga menemukan bahwa anak yang mulai mengonsumsi junk food sejak usia tiga tahun, efeknya pada otak lebih besar. Pada usia tersebut, perkembangan otak anak sangat pesat dan sangat terpengaruh oleh nutrisi yang mereka asup. Sementara kualitas diet pada anak usia 4 hingga 7 tahun tidak terlalu berpengaruh pada IQ mereka saat menginjak usia 8,5 tahun.

"Sangat jelas bahwa pemilihan makanan sehat di awal usia anak sangat mempengaruhi perkembangan otak saat mereka dewasa nanti. Tidak hanya menjaga berat badan ideal dan sehat, tapi juga meningkatkan kemampuan mereka belajar di sekolah," tutur Direktur dari School Food Trust.

Selain diet sehat, aktivitas fisik juga bagus untuk perkembangan otak anak. Sirkuit motorik primer yang terhubung dengan cerebellum --yang mengontrol postur tubuh dan koordinasi gerak-- berkembang selama anak mendekati usia dua tahun. Dalam periode ini, anak mulai mengeksplorasi apapun yang dilihat dan terjadi pada lingkungan sekitarnya.

Kamis, 01 Desember 2011

Liburan Bikin Si Kecil Makin Cerdas

Jika Anda mendapat cuti panjang untuk hari raya, jangan segan untuk membawa si kecil berjalan-jalan. Melakukan perjalanan selama liburan tak hanya membuatnya anak merasa senang, tetapi juga meningkatkan kecerdasannya. 

Seperti dikutip laman She Knows, penelitian yang dilakukan oleh peneliti Amerika Serikat menemukan bahwa melakukan perjalanan wisata saat liburan bisa merangsang keinginan anak untuk lebih banyak tahu tentang segala hal. Penelitian ini dilakukan di beberapa sekolah dan mengungkap bahwa perjalanan wisata yang dilakukan bersama keluarga adalah hal penting dari pendidikan anak. 

Aktivitas ini memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan kognitif dan merangsang timbulnya rasa ingin tahu pada anak. Doktor William Norman, seorang profesor manajemen pariwisata di Clemson University, Carolina Selatan menyatakan, "memberikan pengalaman perjalanan pada anak, memperluas cakrawala dan membuka pikiran mereka untuk belajar banyak hal." 

Doktor Norman dan tim penelitinya menggunakan data yang dikumpulkan oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat sebagai bagian dari studi longitudinal 'Anak Usia Dini'. Data tersebut berisi informasi tentang 21.600 anak mulai dari taman kanak-kanak sampai kelas lima sekolah dasar.
Mereka mengamati pengalaman awal anak sekolah, pengalaman keluarga serta pengalaman hidup, seperti kegiatan musim panas. 

Orangtua dari sekitar seperempat anak-anak diberikan pertanyaan tentang wisata musim panas dan prestasi akademik. Prestasinya tersebut diukur dengan serangkaian tes standar dalam matematika, membaca dan pengetahuan umum.

Para peneliti kemudian menganalisis data untuk menentukan hubungan antara perjalanan liburan musim panas dan prestasi akademik pada anak-anak saat masuk kelas pertama. Secara khusus, penelitian ini untuk mengetahui apakah pergi berlibur, jumlah hari yang dihabiskan untuk liburan dan tempat yang dikunjungi terkait dengan prestasi akademik di bidang membaca, matematika dan pengetahuan umum. 

Hasil penelitian pun cukup mengejutkan. Para peneliti bisa dengan jelas mengidentifikasi hubungan yang signifikan antara prestasi akademik dan liburan keluarga. Ada tiga kesimpulan yang didapatkan dari penelitian :
- Anak-anak yang bepergian dengan keluarga, memiliki nilai lebih tinggi pada tes penilaian prestasi akademik daripada mereka yang tidak bepergian. 
- Semakin lama jumlah hari yang dihabiskan untuk perjalanan keluarga, memberikan pengaruh positif pada prestasi akademi anak. 
- Anak-anak yang menghabiskan waktu di museum, situs bersejarah, taman negara, dan bahkan kebun binatang serta pantai memiliki nilai prestasi akademik yang secara signifikan lebih tinggi daripada mereka yang tidak. 

Dengan kata lain, Anda tidak perlu membawa keluarga dan anak-anak ke tempat liburan yang mahal. Cukup mengajak mereka pergi ke lingkungan baru seperti kebun binatang, memungkinkan mereka untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan dan alam sekitar. Cara ini bisa membuat mereka lebih cerdas.

Rabu, 30 November 2011

Si Kecil Masuk Pra-sekolah, Efektifkah?

Saat ini taman kanak-kanak (TK) dan prasekolah bermunculan di mana-mana. Para orang tua berpikir TK dan prasekolah mempersiapkan anak untuk berpikir dan belajar yang membantu kesuksesan anak-anaknya di masa depan.

Namun, sebuah studi baru mengungkap bahwa peranan prasekolah tidak sepenting apa yang kebanyakan orangtua bayangkan.

Seperti yang VIVAnews kutip dari Momlogic, Profesor Dartmouth Elizabeth Cascio mengatakan mendaftarkan siswa di prasekolah atau taman kanak-kanak dan mungkin hanya memiliki sedikit efek pada kesuksesan mereka di masa depan.

Studi di California AS menemukan orang-orang yang dianggap relatif sukses adalah anak yang lahir antara tahun 1954 dan 1978 di 24 negara bagian di mana hanya sebagian yang menjalani aktivitas di prasekolah. Cascio menemukan, kehadiran taman kanak-kanak tak banyak mempengaruhi prestasi siswa di masa depan. Bahkan, tidak ada korelasi kuat antara kehadiran TK dan gaji yang lebih tinggi setelah lulus dari SMA atau universitas.

Cascio percaya temuannya dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan apakah manfaat pendidikan dini lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan orangtua. "Kita ingin melihat (potensi) efek jangka panjang dari program-program yang diusulkan. Temuan ini berguna untuk melihat efek jangka panjang dari program-program masa lalu."

Di AS sendiri mewajibkan TK bagi setiap anak masih menjadi perdebatan. Menurut Cascio, untuk melihat efek wajib TK yang akan diberlakukan hasilnya baru terlihat di tahun-tahun mendatang.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...