Senin, 26 Maret 2012

Cara Pemberian Susu pada Bayi Berhubungan dengan Kecerdasan..?


Meskipun lebih merepotkan, ibu sebaiknya tidak perlu menerapkan jadwal dalam memberikan susu kepada bayinya. Sebuah penelitian dari Oxford menegaskan bahwa bayi yang diberi ASI atau susu botol sesuai jadwal prestasi akademiknya tidak sebaik bayi yang diberi susu hanya ketika meminta susu.

Temuan ini berdasarkan hasil tes IQ dan tes prestasi yang dilakukan pada anak berusia 5 - 14 tahun. Ini menunjukkan bahwa pemberian susu sesuai permintaan berkaitan dengan nilai IQ yang lebih tinggi. Nilai IQ anak berusia 8 tahun yang diberi susu sesuai permintaan 4 - 5 poin lebih tinggi dibandingkan anak yang diberi susu sesuai jadwal semasa bayi.

Penelitian yang dimuat European Journal of Public Health ini merupakan penelitian besar pertama yang menyelidiki akibat jangka panjang dari pemberian susu sesuai jadwal dibandingkan sesuai permintaan bayi sendiri. Penelitian ini dilakukan oleh Dr Almudena Sevilla-Sanz dari Centre for Times Use Research di University of Oxford dan the Institute for Social and Economic Research (ISER) di University of Essex.

Penelitian ini didasarkan pada data dari penelitian panjang bertajuk Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC), sebuah penelitian terhadap lebih dari 10.000 orang anak yang lahir di awal 1990-an di daerah Bristol, Inggris.

Penelitian ini melihat 3 jenis ibu dalam memberikan susu kepada bayinya. Satu kelompok memberi susu sesuai jadwal sejak bayi berusia 4 minggu, kelompok berikutnya mencoba memberi susu sesuai jadwal tetapi tidak berhasil, kelompok lainnya memberi susu hanya sesuai permintaan bayi. Anak-anak dari ibu yang mencoba memberi susu sesuai jadwal tapi gagal mendapat nilai yang sama tingginya dengan bayi yang diberi susu sesuai permintaan dalam tes kecerdasan dan skor IQ.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti tingkat pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, jenis kelamin dan usia anak, kesehatan ibu dan gaya pengasuhan, penelitian menemukan bahwa memberikan susu sesuai permintaan bayi berkaitan dengan nilai IQ yang lebih tinggi pada usia 8 tahun. Hubungan ini juga terlihat pada usia 5, 7, 11 dan 14 tahun.

Namun, para peneliti masih berhati-hati dalam menafsirkan temuan ini. Meskipun telah memiliki beberapa alasan penyebabnya, peneliti belum bisa menjelaskan mengapa perbedaan ini terjadi.

Penelitian menemukan bahwa memberikan susu sesuai jadwal tidak memiliki manfaat bagi bayi. Namun beberapa ibu yang memberikan susu sesuai jadwal mengaku lebih memiliki rasa percaya diri dan sejahtera.

"Kami menemukan adanya perbedaan nilai IQ pada anak yang diberi susu sesuai jadwal dengan anak yang diberi susu sesuai permintaan, baik susu lewat ASI maupun susu botol. Perbedaan nilai IQ yang ditemukan adalah sebesar 4 - 5 poin, jadi tidak akan terlalu mencolok dalam perbedaan kecerdasan anak," kata salah satu peneliti, Dr Maria Iacovou seperti dilansir Medicalxpress.com, Rabu (21/3/2012).

Dr Iacovou memberikan gambaran mengenai perbedaan nilai IQ sebesar 4 - 5 poin tersebut. Misalnya dalam 1 kelas ada 30 orang anak. Seorang anak peringkat kelas ke-15 dengan perbaikan IQ sebesar 4 atau 5 poin akan mengalami kenaikan peringkat menjadi peringkat 11 atau 12 di kelasnya.


Sabtu, 24 Maret 2012

Makan Ikan Bikin Anak Makin Cerdas


Makan ikan membuat anak anda lebih cerdas, demikian hasil studi ilmuwan Swedia yang diterbitkan pekan ini.
    
Studi itu mendapati bahwa remaja laki-laki berusia 15 tahun dan makan ikan sedikitnya satu kali satu pekan mencatat prestasi tinggi dalam uji intelijensi ketika mereka berusia 18 tahun dibandingkan dengan mereka yang jarang makan ikan.
    
"Kami menemukan hubungan yang jelas antara seringnya konsumsi ikan dan nilai lebih tinggi ketika remaja memakan ikan sedikitnya sekali sepekan," kata peneliti Profesor Kjell Toren dari Sahlgresnka Academy di University of Gotherburg.

Rata-rata, makan ikan sekali satu pekan dapat meningkatkan gabungan nilai intelijensi verbal dan visuospatial sebesar enam persen, sementara makan ikan lebih dari sekali dalam satu pekan meningkatkan nilai itu sampai 11 persen, kata para peneliti tersebut.
    
Studi itu yang dilandasi atas jawaban dari hampir 4.000 remaja Swedia dan disiarkan dalam Acta Paediatrica, terbitan Maret, menduga bahwa asam lemak omega-3 dan omega-6 pada ikan dapat menjadi kunci bagi peningkatan kemampuan kognitif.

Para peneliti tersebut juga berencana mengkaji apakah jenis ikan yang dikonsumsi memberi perbedaan hasil.


Rabu, 14 Maret 2012

Mengajarkan Berhitung Pada Anak

MENGUKUR PANJANG

Menjelaskan konsep “sepanjang apa” dan “setinggi apa”.

Balap Ular. Ambil lilin mainan sebesar bola untuk Anda dan si kecil. Pada hitungan ketiga, gulung lilin hingga berbentuk panjang seperti ular. Setelah 15 detik, jajarkan ular buatan si kecil di samping milik Anda, lalu bandingkan mana yang lebih panjang.

Langkah demi Langkah. Di tempat parkir, tanyakan kepadanya, “Menurutmu perlu berapa langkah untuk sampai di toko?” Hitung jumlah langkah ketika berjalan ke toko. Saat pulang, hitung lagi dengan suara keras bersamanya, lalu bandingkan mana yang lebih banyak.

Berapa Daun. Cari daun yang besar di taman atau di pekarangan. Tanyakan, “Kira-kira harus mengumpulkan berapa daun untuk menjadi setinggi kamu?” Ajak juga dia menggunakan daun untuk mengukur benda lain, seperti bangku atau ayunan.

BERAT

Jangan hanya bicara ukuran –biarkan anak merasakan sendiri perbedaan berat.

Si Tukang Bersih-bersih. Minta dia untuk mengisi dua wadah berukuran sama dengan mainan atau balok, lalu angkut ke atas timbangan. Tanyakan, “Dari kedua ini, mana yang lebih berat? Ayo, kita cek.” Tunjukkan angka pada timbangan, dan jelaskan mengapa ini bisa terjadi.

Memilih Labu. Ketika membeli labu, ajak anak membawa labu yang kecil. Lalu cari yang besar dan katakan, “Kamu bisa bawa yang itu? Sepertinya lebih berat? Coba lihat, mungkin Ayah bisa.”

Bermain Timbangan. Biarkan dia mengisi buah-buahan ke dalam plastik sebelum ditimbang. Jelaskan kepadanya untuk menaruh satu persatu agar hasil timbangan bisa pas.

MEMBANDINGKAN DAN MEMBEDAKAN

Siap untuk matematika yang lebih rumit?

Barisan Boneka. Susun beberapa baris kursi. Minta si kecil berpura-pura memberi karcis kereta kepada mainan binatangnya –dan mereka harus didudukkan berurutan, dari yang paling kecil ke yang paling besar.

Diagram Lezat. Ambil permen warna-warni M&M, dan tunjukkan cara membuat grafik batang dari permen tersebut. Tanyakan mana warna yang paling banyak dan paling sedikit.

Mencuci Sambil Belajar. Ambil dua handuk yang sama ukurannya. Letakkan berdampingan. Lipat satu handuk memanjang dan handuk lainnya melebar. Tanyakan mana yang lebih panjang, kemudian lakukan sebaliknya dengan handuk yang sama.

WAKTU

Jangan berharap si kecil tahu cara membaca waktu, tapi bantu dia untuk memahaminya.

Kalendar Berantai. Ketika akan ada acara penting, buatlah rantai kertas dimana setiap rantai mewakili satu hari. Suruh anak merobek kertas tersebut begitu satu hari telah berlalu dan minta dia menjelaskan mengapa semakin hari rantai kertas itu menjadi semakin pendek.

Mengurutkan Foto. Ambil serangkaian foto si kecil dalam kesehariannya. Mulai dari bangun tidur, sarapan, bermain, makan malam, dan seterusnya. Esok harinya, jajarkan foto-foto tersebut secara tidak berurutan, dan katakan, “Ini foto-foto kemarin. Kamu bisa bantu mengurutkan semua foto ini? Apa yang pertama kamu lakukan? Lalu?”

Waktu untuk Camilan. Berikan crackers kepada si kecil sebagai camilan. Lalu buah-buahan. Selanjutnya, tanyakan, “Mana yang lebih lama habis? Mana yang lebih cepat habis?”



Jumat, 24 Februari 2012

Ajari Bayi Kosakata Berikut...


PENELITI dari Child Study Institute di Bryn Mawr College telah mengidentifikasi 25 kosakata yang harus digunakan pada balita mulai dari usia dua tahun. Seperti dikutip shine.yahoo.com, temuan dari Dr Lesloe Rescorla ini telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science. 

Menurut penemuan tersebut balita rata-rata menggunakan 75-225 kata dan mampu menggabungkannya ke dalam frase. Nah, ini dia 25 kosakata yang umum untuk bayi: 

1. semua pergi 

2. bayi 

3. bola 

4. pisang 

5. mandi 

6. selamat tinggal 

7. buku 

8. mobil 

9. kucing 

10. kue 

11. ayah 

12. anjing 

13. mata 

14. topi 

15. hai 

16. panas 

17. jus 

18. susu 

19. mama 

20. lebih 

21. tidak 

22. hidung 

23. sepatu 

24. terima kasih 

25. ya. 


Sabtu, 18 Februari 2012

Kapan Memberi Bayi Makanan yang Bisa Dikunyah..?


Pengenalan makanan padat kepada bayi tak hanya penting untuk alasan nutrisi, tetapi juga penting untuk mengoptimalkan perkembangan motorik oralnya yang kemudian dibutuhkan untuknya dalam melafalkan kata-kata dengan baik dan benar. Pergerakan mulut, bibir, lidah, pipi, dan rahang saat anak mengisap, menggigit, serta menjilat menggunakan otot-otot yang juga digunakan untuk berbicara.

Transisi tekstur asupan berbentuk cairan ke makanan padat saat bayi masih mengembangkan kemampuan mengunyahnya adalah hal yang penting. Perbedaan tekstur membutuhkan kemampuan motorik oral berbeda, yang penting dalam perkembangan cara bicara anak. Contoh, makanan yang dihaluskan dan mengandung bongkahan lembut akan mendorong anak untuk menggigit. Mengunyah membantu melatih penggunaan lidah anak, yang sangat penting dalam pelafalan huruf-huruf tertentu. 

Makanan padat membantu mengembangkan dan menguatkan rahang, begitu juga otot bibir dan lidah, yang dibutuhkan saat mengucapkan kata. Bibir juga membantu menjaga makanan agar tidak keluar dari mulut, dan penting untuk melafalkan huruf m, p, dan b. 

Terlambat memperkenalkan makanan dengan tekstur yang berbeda saat perkembangan bayi bisa membuat bayi malas mencoba rasa dan tekstur baru, begitu juga keterlambatan dalam melatih mengunyah dan perkembangan otot oral bisa menyebabkan masalah pada pengucapan kata-kata di kemudian hari. Cherie Lyden, nutrisionis dari Essential Baby membagi pengetahuan mengenai apa dan kapan perkembangan otot mulut anak:

Baru lahir
Di tahap ini, bayi baru lahir baru bisa mengisap dan menelan. Sistem pencernaannya pun masih belum berkembang, karenanya dibutuhkan ASI atau susu formula sebagai makanan utamanya. Pergerakan rahang saat menyusu ASI membantu bayi untuk mengunyah di kemudian hari. 

3 bulan
Di usia ini, bayi sudah memiliki kontrool kepala yang lebih baik, mampu menaruh jari mereka ke dalam mulut, dan memiliki pergerakan mulut serta bibir yang lebih baik. Sistem pencernaan mereka masih belum matang untuk menerima asupan apa pun kecuali air susu sebagai sumber utama makanannya. 

4-6 bulan
Pergerakan rahang dan bibir bayi sudah cukup baik, dengan kemampuan menggerakkan lidah naik-turun untuk memudahkan pengisapan, pengunyahan, serta mendorong makanan ke belakang untuk ditelan. Umumnya, di usia 4-6 bulan, bayi sudah menunjukkan tanda-tanda siap mencoba makanan selain air susu sebagai pelengkap (makanan pendamping ASI - MP ASI). Di usia ini sistem pencernaannya masih belum matang benar, namun di sekitar usia 6 bulan, bayi membutuhkan nutrisi selain air susu, karenanya di usia ini makanan padat sudah bisa diperkenalkan. Makanan padat ini sebaiknya divariasikan, penuh nutrisi dan energi, serta bertekstur amat halus, guna memudahkan si anak untuk menelan dan mencerna. ASI atau susu formula untuk si bayi tetap harus diberikan hingga usia kurang lebih 12 bulan dan selalu ditawarkan sebelum makanan padat. 

Beberapa tanda si bayi sudah siap mencoba makanan padat antara lain; ia sudah bisa duduk tegak, memiliki kendali penuh terhadap pergerakan kepala dan leher, selalu ingin menaruh barang ke dalam mulut, sudah bisa mengisap makanan halus dari sendok, tertarik terhadap makanan, dan tidak puas hanya dengan minum susu. 

7-9 bulan
Makanan padat sudah bisa diperkenalkan dengan makanan berbongkah yang sudah dipotong dan cukup lembut, hindari makanan yang keras karena si kecil bisa tersedak, seperti bulatan buah anggur utuh, kacang, atau wortel mentah. Dengan koordinasi mata dan tangan yang sudah lebih baik, si bayi akan menunjukkan ketertarikan untuk mencoba makan sendiri, baik menggunakan tangan langsung maupun menggunakan sendok. Makanan kecil yang cukup lembut tetapi masih perlu ia kunyah akan membantunya melatih perkembangan otot mulut. Jangan lupa untuk selalu memberinya air putih. 

10-12 bulan
Makanan padat sekarang sudah bisa dipotong cukup kasar dan sedikit lebih besar ukurannya. Bayi di usia ini sudah cukup berani dan mandiri untuk makan sendiri, ia sudah bisa memilah mana yang harus dikunyah dan mana yang sudah bisa ditelan. Otot bibirnya sekarang sudah lebih kuat dan bisa menahan lebih banyak makanan dan cairan di dalam mulut. Ia pun sudah bisa menahan tempat minum dan minum sendiri. 

1 tahun ke atas
Di usia ini, dengan nutrisi yang tepat, si kecil sudah bisa makan cukup sering, sekitar 3 menu di makan utama pada jam makan tertentu dan diselingi 2-3 makanan kecil per hari. Anak sudah bisa melatih pergerakan otot mengunyah yang memutar, dan memiliki otot rahang yang lebih stabil, yang mengakomodir gerak lidah. Saat si kecil beranjak dewasa, kemampuan motorik halusnya berkembang lebih baik dan belajar mengendalikan otot mulutnya. Ini merupakan proses yang terus berjalan, dan akan berkembang pada caranya berbicara dan mengucapkan kata-kata.



Senin, 13 Februari 2012

Perlengkapan Dasar Buat Persiapan Ibu baru


Menjelang proses melahirkan, ada baiknya kita  Berbelanja keperluan bayi terlebih dahulu. Ada banyak pilihan yang cantik, dengan warna-warni yang juga menarik. Terkadang Anda seperti ingin membeli semuanya. Namun, Anda juga perlu ingat bahwa perlengkapan bayi itu ada batas masa pakainya. Begitu bayi telah bertumbuh besar, barang itu tidak lagi dipakai (kecuali Anda berencana memiliki anak lagi). Karenanya, sebaiknya Anda merencanakan dulu apa akan dibeli, agar tidak memboroskan anggaran.

Baik Anda tipe ibu "minimalis" (yang membeli perlengkapan seperlunya saja) atau tipe "shopaholic" yang senang berbelanja, berikut ini adalah delapan perlengkapan yang tidak boleh dilupakan saat berbelanja.

1. Tempat tidur bayi
Jika Anda ingin tempat tidur model klasik, carilah yang kerangka tempat tidurnya kokoh, sehingga tidak mudah terbalik. Jangan lupakan juga perlengkapan tambahan seperti bantal, guling, dan selimut.

2. Kereta dorong (stroller)
Untuk jangka pendek, pilihan yang paling tepat adalah car seat carrier, semacam kursi bayi yang bisa dipasang di mobil namun bisa dilepas dan dipasang pada kerangka kereta saat berjalan-jalan. Namun, mengingat kursi semacam ini umurnya pendek, lebih baik Anda memilih kereta dorong konvensional yang bisa disesuaikan tempat duduknya dengan kondisi bayi. Carilah kereta dorong dengan pegangan yang bisa disesuaikan tingginya, serta dapat bermanuver dengan gesit saat Anda mendorongnya.

3. Tempat duduk di mobil (car seat)
Pilihan terbaik adalah jenis convertible car seat, yang khusus dipasang di mobil, dan bisa dipakai sejak bayi masih kecil hingga batita. Carilah yang tali serta sandaran duduknya dapat dengan mudah dipasang dan disesuaikan, serta disertai bantalan yang empuk, khususnya di bagian kepala.

4. Popok sekali pakai (diaper)
Belilah dalam stok yang banyak dan cari merek yang cocok dengan bayi Anda. 

5. Botol susu dan pompa ASI
Jika Anda berencana akan kembali bekerja sambil tetap memberikan ASI eksklusif bagi bayi, belilah pompa ASI yang berkualitas baik. Pilihannya adalah yang elektrik sehingga bisa memerah ASI dari dua payudara sekaligus, atau pompa manual yang lebih menyita waktu. Lengkapi juga dengan botol susu dan dot yang sesuai. Menurut Jay Gordon, MD, dokter spesialis anak dari Santa Monica, saat memilih dot Anda perlu memerhatikan agar dapat membuat susu mengalir dengan lancar.

"Ini lebih penting daripada memilih bentuk botol susunya," kata Gordon. Dot dari karet lebih lunak dan fleksibel dibandingkan dengan silikon, namun Anda perlu sering menggantinya karena dalam waktu singkat dot karet akan mudah berubah bentuk.

6. Gendongan bayi (carrier)
Gendongan ini dibutuhkan apabila Anda sering mengajaknya berjalan-jalan, namun tidak bisa membawa kereta dorong. Anda bisa mencari gendongan yang dapat dipakai di depan maupun belakang. Pilih yang memiliki tali bahu tebal, kokoh, dan gespernya mudah dibuka. Jika terdapat penyokong kepala untuk bayi, akan lebih baik lagi.

7. Peralatan kesehatan
Pastikan Anda memiliki kotak obat khusus untuk bayi, yang berisi termometer digital, penyedot hidung, gunting kuku bayi, alat tetes obat dan sendok obat, masing-masing disimpan dalam plastik bersih.

8. Bak mandi
Pilih bak mandi yang memungkinkan bayi dibaringkan tanpa tergelincir dari tangan, lalu lengkapi juga dengan spons mandi yang lembut dan sabun.





Jumat, 03 Februari 2012

Ucapan Kepada Anak yang Wajib dihindari


Orang tua Merupakan sosok yang sangat penting dan berpengaruh dalam Kehidupan seorang anak, baik tingkah laku orang tua maupun ucapan orang. Terkadang, permasalahan di kantor, konflik dengan suami, atau permasalahan keluarga malah membuat Anda kesal ketika berhadapan dengan sikap anak yang kurang menyenangkan.

Apalagi jika si kecil meminta macam-macam kepada Anda, sehingga tidak menutup kemungkinan Anda mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan ke buah hati tercinta. Tentu saja, hal tersebut akan meninggalkan luka tersendiri bagi anak Anda. 

Berikut sembilan hal yang sebaiknya jangan diucapkan orangtua kepada buah hatinya seperti dilansir Parenting :

1. "Pergi! Mama ingin sendiri dulu"
        Ketika Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.
             Ketimbang mengucapkan kalimat di atas, ketika Anda memang sibuk coba katakan pada anak, "ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu akan menyusul". Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama beberapa jam.

2. "Kamu itu..."
        Memberikan label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan "kamu itu memang pemalas," maka ia akan ikut melabeli dirinya secara tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa. 
      Sebaliknya, jika Anda mengatakan "kamu anak yang pintar," ia akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.

3. "Jangan menangis"
    "Jangan sedih!," atau "jangan seperti anak kecil" merupakan variasi lain dari kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah. 
      "Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan "jangan" dan "tidak" kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat. 
        Daripada Anda memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya. "Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu. Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian".
        Dengan memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.

4. "Kenapa kamu tidak seperti dia?"
      Wajar bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik, atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi, membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar, memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. 
        Membandingkan anak Anda akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu, membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali.

5. "Lho, hanya begini hasilnya?"
      Sama seperti membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan membuatnya malas untuk kembali belajar.
         Jika anak Anda terus melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata "sepertinya akan lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini," akan lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.

6. "Berhenti, atau..."
          Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman sebagai suatu hal yang biasa. "Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan," kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of New Hampshire. 
           Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau memberinya time-out. 

7. "Tunggu sampai Mama pulang ke rumah!"
           Ini adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam menangani tingkah lakunya.

8. "Ayo, cepat!"
            Anda pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet, kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati. Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.

9. "Hebat! atau "anak baik!"
            Memang, tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti "wah, kamu sangat hebat!," dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap hari, akan menjadi kurang berarti. 
           Anak-anak dapat membedakan mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik, berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku tersebut.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...