Minggu, 26 Juni 2011

Anak Mengamuk Lagi..?

Anak yang mengamuk di tempat publik mungkin akan membuat Anda sangat malu. Sebagian orangtua juga sering tidak tahu harus berbuat apa sehingga memilih untuk "bernegosiasi" dengan anak, yang penting dia tidak lagi menjerit dan berguling-guling di lantai. Namun, sebenarnya ada yang perlu diketahui seputar perilaku tantrum (mengamuk) yang dilakukan anak.

Menurut Dr Brenna E Lorenz, peneliti dari University of Guam, kita perlu memahami mengapa anak mengalami tantrum. Ia mengamuk karena dorongan amarah dari dalam dirinya. Sementara, kemarahan ini berakar dari rasa takut. Misalnya, "Kalau saya tidak mendapat mainan ini sekarang, sampai kapan pun saya tidak akan dibelikan orangtua saya." Rasa takut ini kemudian digantikan oleh rasa sedih karena merasa dia tidak mendapat hal yang ia inginkan. Itu sebabnya, ia menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan.

Sebagai orangtua, hal terbaik yang perlu dilakukan pada situasi seperti ini bukanlah menyerah pada keinginan anak dan memenuhinya. Meskipun hal ini adalah solusi paling mudah, terutama apabila Anda sudah lelah atau masih harus mengurus anak lainnya. Sekali Anda menyerah, anak akan kembali melakukan hal yang sama karena ia tahu dengan cara itu ia bisa mendapatkan keinginannya. Untuk itu, Anda perlu lebih banyak berbicara dengan anak agar ia terbiasa untuk mengemukakan emosinya dengan cara yang lebih positif.

Lorenz juga memberikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan orangtua saat anak mengamuk:
1. Tetaplah tenang dan berpikir jernih. Berfokuslah pada penyebab dia mengamuk dan abaikan perilaku buruknya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa cara "berkomunikasi" seperti itu tidak membuahkan hasil.

2. Hindari menghukum anak. Berteriak atau bahkan memukul anak hanya akan membuat tantrumnya menjadi lebih parah. Dalam jangka panjang, perilaku ini akan ia pertahankan.

3. Jangan memberi apa yang ia inginkan. Menyerah pada keinginannya hanya akan membuatnya melegalkan aksi tantrum untuk mendapatkan yang ia inginkan.

4. Jaga agar anak tetap berada dalam keadaan aman meski sedang mengamuk.

5. Apabila memungkinkan, tempatkan dia di tempat yang khusus agar tidak mengganggu atau melukai orang lain ataupun dirinya sendiri.

6. Jangan biarkan reaksi negatif dari orang sekitar Anda memengaruhi bagaimana Anda menangani tantrum  

Selamat Mencoba...

Sabtu, 18 Juni 2011

Bayi yang lahir lewat Operasi, Rawan Alergi


- Bagi wanita yang melahirkan secara normal, anak Anda dipastikan tidak mengalami alergi apapun saat maish bayi, anak-anak hingga dewasa. Hal ini berbeda dengan wanita yang melahirkan secara caesar.

"50 Persen wanita yang melahirkan secara caesar, anak-anaknya rawan mengalami alergi apapun. Hal ini tentu berbeda dengan wanita yang melahirkan melalui jalur biasa banyak untungnya," kata Dr dr Ario SpPD-KAI, Wakil Ketua Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XXV Ilmu Penyakit Dalam FK Unair-RSU dr Soetomo yang digelar di Hotel Shangri-La .

Dia menambahkan, secara teknis bayi yang lahir secara normal akan melewati beberapa bagian organ dalam hingga vagina sang ibu. Secara logika ibu yang melahirkan normal, si bayi akan menelan dan menghirup lendir, darah atau air ketuban.


Namun justru hal itulah yang menyebabkan si bayi kebal, termasuk kebal terhadap alergi. "Bayangkan saja saat sang bayi melewati perjalanan keluarnya dari rahim, dia akan menelan lendir yang dianggap sebagai kuman atau mikroba. Tapi justru mikroba itu mengandung pro biotik yang berfungsi salah satunya untuk ketahanan tubuh," jelasnya.

Tapi, kata dia, wanita yang melakukan operasi caesar saat melahirkan justru mudah terkena alergi. "Padahal mereka yang melakukan caesar jauh dari kotor penanganannaya. Semua dilakukan steril, baik saat dibersihkan dan diberi antibiotik," kata dr Ario.
(fat/fat)

Rabu, 25 Mei 2011

Agar Bayi Mudah Tidur

BAGI seorang bayi, tidur memiliki manfaat yang sangat besar untuk tumbuh kembangnya. Karena itu, saat tidur pertumbuhan fisik baik pertambahan berat badan, tinggi badan, dan kesehatan bayi terpacu. Untuk itu bayi perlu tidur nyenyak.

Nah, agar bayi Anda bisa tidur nyenyak, berikut beberapa tip yang dapat dilakukan:

1. Bantulah bayi memahami bahwa siang hari saatnya makan dan malam hari saatnya tidur atau istirahat. Cobalah untuk memberi makan bayi setiap tiga jam sekali pada siang hari.

2. Gendonglah bayi pada siang hari. Frekuensi kedekatan dan keakraban yang meningkat bisa memunculkan ketenangan. Bayi yang tenang pada siang hari cenderung tenang juga pada malam hari.

3. Kenyangkan bayi sebelum tidur. Usahakan untuk menyusui bayi hingga kenyang sebelum tidur dan saat bayi terbangun pada malam hari.

4. Kenakan baju bayi yang tepat. Cobalah untuk menggunakan berbagai baju bayi untuk melihat baju apa yang dapat membantunya tidur lebih tenang.

5. Bersihkan badannya terlebih dahulu. Tubuh lengket karena keringat dan kotor sehabis makan dan bermain gampang membuat kulit bayi gatal-gatal sehingga mengganggu tidurnya.

6. Atur suasana kamar sehingga nyaman untuk tidur. Ini meliputi tata cahaya, ventilasi, tata warna, suhu, dan juga keadaan boksnya. Anda bisa meletakkan boks di dalam kamar tidur, di samping ranjang orang tua atau di kamar tersendiri.

7. Rebahkan bayi di tangan ibu. Kehangatan tangan ibu bisa memberikan sentuhan tambahan yang dibutuhkan bayi untuk membantunya tertidur sambil memberikan tepukan lembut di punggung atau bokong bayi.

8. Lakukan buang air sebelum tidur. Celana basah dan kotor bisa mengganggu tidur bayi. Karena itu, usahakan agar bayi buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK) sebelum tidur.

9. Agar bayi dapat tidur teratur dan lelap, Anda dapat melakukan beberapa rutinitas. Misalnya mendongeng, bernyanyi, dan mendengar musik.

10. Anda tidak bisa memaksa bayi untuk tidur. Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman adalah cara terbaik untuk membuat bayi lebih cepat tidur dan jangka waktu tidurnya lebih panjang



Kamis, 10 Maret 2011

88% Ibu Merasa Bersalah Kurang Waktu Bersama Anak

Jakarta - Berapa lama ibu bekerja punya waktu untuk dihabiskan bersama anak-anaknya? Berdasarkan penelitian di Inggris, 88% ibu merasa bersalah karena mereka kurang banyak memiliki waktu untuk anak-anak mereka.

Penelitian itu dibuat oleh Procter and Gamble bekerjasama dengan Social Issues Research center. Ada 1.000 ibu-ibu yang jadi responden penelitian tersebut.

88 persen ibu yang jadi responden penelitian itu mengatakan merasa bersalah karena kurang memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama anak-anak mereka. Hanya saja, ibu-ibu tersebut berpikir mereka kini menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak ketimbang ibu mereka dulu.


Ada 48 persen responden yang merasa banyak menghabiskan waktu dengan anak. Sedangkan 19 persen merasa mereka hanya punya sedikit waktu untuk anak-anak.

Dilansir Daily Mail, dari hasil penelitian itu juga terungkap, 64 persen ibu hanya punya 'me time' 26 menit setiap harinya, merasa mereka harus bekerja untuk membantu keuangan keluarga. Sedangkan 29 persen ibu merasa mereka berada dalam tekanan untuk menjadi ibu yang sempurna.

Temuan lainnya dari penelitian itu adalah, jejaring sosial dan situs parenting serta kecanggihan tekhnologi seperti Skype, adalah hal-hal yang membantu para ibu untuk mendapatkan dukungan dari sesama komunitas mereka.

"Dengan semakin bertambahnya tekanan pada ibu untuk bekerja dan jadi ibu sempurna sekaligus sebagai penambah gaji, dukungan dari sesama mereka, sangat penting," ujar Kate Fox dari Social Issues Research Center.

semoga bermanfaat....!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...